Tentang Mimpi, Harapan dan Kenyataan (bag. 2)
“Lagu selanjutnya diminta oleh…seseorang”, ucapan dari seorang pengamen jalanan itu menarik hatiku.
“Ah..pasti mbak pen2”, batinku. Dengan tersenyum simpul menatapi ruas jalan yang tersinari lampu.
Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menatapku bersahabat
……………..
Bait per bait dinyanyikan oleh ketiga pengamen jalanan itu. Lumayan juga, daripada cuman ngedengerin suara mesin bus. Aku memilih untuk asyik dengan lamunanku, daripada beramah-ramah dengan orang disebelahku. Oh ya, saat itu aku bepergian dengan seorang temanku. Bus sudah penuh sesak ketika kami naik, ada beberapa bangku yang masih kosong, tapi berlainan tempat. Ya..terpaksa kita pisah tempat duduk.
“Ah..jogja. Rasanya aku ngga akan pernah bosan maen ke kesini”, bus semakin berjejalan penumpang. Malam semakin nyata menunjukkan gelapnya.
***
“Mbak, ada Indra Bekti di Jogja besok minggu. Temenin aku nonton, ya”, seru mbak pen2.“Tahu darimana njenengan?”, jawabku balik nanya.
“Di koran hari ini”
“Emang acara apaan?”
“Acara memasak di galleria mall”
“Emang Indra Bekti bisa masak??? Paling juga cuma makan, sampe perutnya ndut gitu”, ledekku pada mbak pen2 ttg tokoh idolanya itu.
“Aaa…Bekti cakep pokoknya”, protesnya membela sang idola. Deuh..mati2an pokoknya suenenge hehe..
“Iya deh. Insya Allah ya”
“Asyik..”
***
Minggu, 28 Januari 2007
Selepas shalat subuh, kami telah bersiap mo berangkat ke jogja. Subhanallah…pagi bgt, kyk org mo piknik. “Yah..namanya juga demi cinta, bu….”
“Huam..nguantuk mbak pen”, entah sudah brp kali aku menguap.
“Tidur sini aja”, sambil menepuk pundaknya dia berkata.
“Duh, semangate. Njenengan ngga ngantuk tho?
“Ngga..kan mo ketemu Indra Bekti”
Ck.ck.ck..ni anaaak.
Bus 3/4 yang kami naiki melaju santai menyusuri jalur selatan yang masih lumayan sepi. Cepat juga klo ke jogja lewat jalur selatan, soalnya ngga ada lampu bangjo.
Sekitar pukul 7.30 pagi kami sudah sampai di gamping. Mana ada mall yang buka jam segini??
“Mbak, kita langsung ke galleria aja ya. Ntar ndak telat”, ucap mbak pen, tak berapa lama stlh kami turun bus.
“Acaranya jam brp seh?”
“Jam 9.00…”
“Lah..Indra Bekti tuh sekarang masih di jkt. Pesawatnya berangkatnya nanti”, asal aja aku menanggapi.
“Nggak…pesawatnya udah dari tadi pagi”
Haha..tawa kamipun berderai. Sok tau bgt seh.
Sepanjang perjalanan ke galleria mall, mbak pen2 heboh bgt. Pdhl cuman ngliat spanduk promosi acara memasak itu.
“Inbek, mbak..Inbek…”, serunya sepanjang jalan.
“Obatnya habis ya, bu..” hihi….
***
Benar saja, galleria mall masih lengang pengunjung. Ya iyalah..masih pagi gitu loh.
Ada sebuah panggung ditengah lantai dasar. Ada juga beberapa pasang kursi dan meja yang dibungkus kain dengan sangat apik. Disisi belakang, nampak sejumlah stand dengan brg2 tersusun rapi. Pasti mereka para sponsor acara ini. Karena masih sepi, kamipun memilih jalan2 dulu mengitari mall. Hanya beberapa toko yang sudah buka. Yang lain masih tutup.
Tak brp lama, terdengar sebuah lagu dimainkan dipanggung. Entah oleh grup band apa. Kami menikmatinya dari lantai dua, karena lantai dasar dan lantai 1 sudah penuh oleh pengunjung yang juga ingin menonton acara tersebut.
“Kebawah aja yuk mbak, dari sini ngga kelihatan”, ajak mbak pen2 yang kurang puas menikmati dari lantai 2.
“Ayuuukk”,
Kamipun turun sampai dilantai dasar.
“Mbak pen, gmn ya caranya bisa masuk kedlm situ?pake undangan ya?, tanyaku penasaran saat melihat para tamu yg duduk di kursi dpn panggung.
“Iya, gmn ya mbak?”, respon yg bagus.
“Tanya ke bapaknya jaga itu kali ya”. “Hmm..maaf pak, gmn caranya bisa masuk kesitu”, daripada hanya penasaran, aku pun bertanya pd bapak2 yg menggunakan seragam hitam2.
“Beli tiket boxnya mbak”, jwbnya ramah.
“Oo..terima kasih, pak”.
“Sama2”
“Gimana mbak pen, mo masuk ngga?”, tawarku padanya.
Ada keraguan disana. “Kita kan udah jauh2 kesini, masak ngga mo masuk??”, daihku memprovokasi sohibku itu.
“Iya deh. Kita masuk”, jwbnya
“Beneran..?!!”, ulangku coba meyakinkannya.
“Iya. Dimana beli tiketnya?”
“Sek, nanya dulu”. Aku pun kmbl menghampiri bapak tadi.
“Maaf pak, beli tiket boxnya dimana ya?”
“Dibelakang panggung ini, mbak”
“Masih bisa masuk, pak?”
“Untuk brp org, mbak?”
“Dua org, pak”
“Hmm..masih mbak”
“O ya..terima kasih, pak”
Segera stlh mendapatkan tiket boxnya, kamipun bergabung dgn para tamu di kursi dpn panggung. Canggung juga rasanya. Habis…rame bgt yg nonton.
(to be continued :p~)


<< Home