Memory 1st aApril at night (bag. 2)
……....
“Kenapa, mbak?”, Tanya seorang perawat yang menyambut kedatangan kami saat sampai di rumah sakit.
“Hehe..saya nabrak orang, mas”, jawabku sambil nyengir.
Rasanya jantung masih berdegup kencang. Aku merasakan tubuhku gemetar. Ada rasa sesal, jika saja aku menerima tawaran mbak pen-pen untuk istirahat di rumahnya tadi. Ato paling ga minum kopi kek sebelum berangkat. Hmh…tapi ga ada gunanya disesali, sudah terjadi.
Aku masuk ruangan IGD, bapak itu masih sibuk diperiksa oleh dokter dan perawat.
“Rasanya ada yang aneh dengan sandalku”, pikirku.
“Ups..putus ya. Pasti karena aku tadi terlalu kenceng nginjak remnya. Pinjem sandal kantor ahh..”. Aku berjalan menuju kantor yang jaraknya dekat sekali dengan rumah sakit tempat aku berada kini.
“Mbak, ngapain malam-malam?”, sapa satpam kantorku begitu melihatku.
“Saya nabrak orang, pak. Sekarang baru di IGD”, jawabku. Sandal saya putus, mo minjem sandal kantor”.
“Hah..nabrak orang?!”, ulangnya padaku.
“Iya”, jawabku singkat sambil tersenyum getir.
***
Tak berapa lama, aku sudah kembali lagi ke rumah sakit.
“Gimana, mbak?”, tanya mbak pen-pen padaku.
“Kayaknya ga papa, baru diperiksa. Sori mbak ngrepotin”, dengan wajah memelas aku memandangi mbak pen-pen.
Ada perasaan ga enak aku padanya. Baru beberapa menit yang lalu aku mengantarkannya pulang. Sekarang dia harus kembali rumah sakit yang jaraknya tidak dekat dari rumahnya itu. Bersama bapaknya pula. Lengkap sudah perasaan tidak enakku. Karena aku tak tau siapa yang harus kuhubungi malam itu.
“Tau ga mbak, tadi tak pikir njenengan mo diperkosa lho”, ujar mbak pen-pen padaku.
“Hush..enak aja. Doanya elek ik”, sedikit sewot aku menanggapinya.
“Habis berisik banget. Trus suara njenengan kayak orang nangis gitu, bilang ‘mbak tolongin aku’”, lanjutnya sambil tertawa.
“Yah..maklumlah. Orang kaget, panic, bingung mo gimana”, jawabku sekenanya.
Hening sejenak.
“Diingat-ingat mbak, ada apa?”, suara mbak pen-pen membuyarkan lamunanku.
Aku yang malam itu sudah tidak mampu lagi berpikir hanya menjawab sekenanya, “Aku ngga tau, mbak”.
Meski dalam hati, tanya itu menggangguku.
Tak berapa lama, keluarga korbanpun datang. Seorang teman perawat menyarankan agar korban dirawat minimal 1x24 jam, agar bila terjadi apa-apa bisa ketauan. Misalnya pusing ato muntah-muntah. Jika dalam jangka waktu itu tidak terjadi hal tersebut, Insya Allah korban tidak apa-apa. Akhirnya diputuskan korban menginap satu malam.
Pukul 2 dini hari, aku meninggalkan rumah sakit setelah yakin bapak itu mendapatkan kamarnya. Rasa letih membuatku istirahat dengan sangat nyenyak.
***
Keesokan harinya, aku berangkat kantor pagi sekali. Aku harus menjenguk dan menanyakan kabar bapak itu. Bersama mbak pen-pen aku menuju kamar tempatnya dirawat. Karena lorong kamar dipel, kami pun menunggu sambil duduk di pintu masuk. Aku memandang sebuah papan yang digantung tepat diatas kepalaku.
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya”(Al-Hadiid : 22)
Kalimat itu tertulis disana. Aku tersenyum membacanya.
“Yah..semua telah tertulis. Pun juga dengan musibah ini”, ucap hatiku mencoba berdamai.
“Oia mbak pen, kayaknya aku sudah ketemu kenapa ini terjadi”, kataku pada mbak pen-pen atas tanyanya semalam, yang sebenarnya juga tanya batinku.
“Emang kenapa?”, jawabnya balik bertanya.
“ Ada uang yang memang seharusnya keluar”, jelasku. “Dari hasil nutup rekening tabungan kemarin”, lanjutku kemudian.
“Nah..bener kan. Pasti ada apa-apa”, komentnya.
Tak berapa lama kemudian, kami masuk kamar bapak itu. Keadaannya sudah lumayan, hanya tangan kirinya tidak bisa digerakkan. Agar yakin tidak terjadi fraktur, roentgen harus dilakukan.
Hari itu juga, aku menyelesaikan masalah motor bersama keluarga korban. Kami berangkat ke tempat kejadian semalam. Aku bahkan tidak ingat dimana kejadiannya, saking paniknya kali. Dengan panduan bapak yang menolong kami semalam, akhirnya kami sampai ke temapt motor korban dititipkan. Adik korban mencoba menaiki motor itu. Sementara aku, temanku dan saudara korban mendengarkan cerita bapak yang menolong kami semalam.
“Untung dua-duanya sama-sama pelan. Mbaknya naik mobilnya pelan, masnya juga naik motornya pelan. Lha pas masnya menghindari lubang ke kanan, mbaknya kaget. Trus banting stir ke kanan. Saya sudah mbatin, ‘nabrak pohon itu, pasti nabrak pohon’. Untung mbaknya bisa mengendalikan. Pokoknya untung dua-duanyalah. Yang paling beruntung ya mbaknya, dari depan dan belakang sepi ngga ada kendaraan”, papar bapak tersebut.
Aku nyengir mendengar itu. Aku sama sekali tidak ingat klo mo nabrak pohon. Setelah selesai mencoba motornya, kamipun pamit. Selanjutnya ke bengkel, memperbaiki motor korban. Mungkin sekitar satu jam kami disana. Setelah dirasa cukup, kami pun berpisah. Aku dan temanku memilih makan siang dulu sebelum kembali ke kantor.
“Alhamdulillah..satu masalah terselesaikan”, lirihku lega.
***
Malam harinya, aku kembali menjenguk korban. Roentgen telah dilakukan dan hasilnya tidak ada fraktur pada tangan kirinya. Lega juga aku mendengarnya. Malam itupun, korban sudah diperbolehkan pulang. Dengan mobil kantor, aku ditemani driver mengantar korban pulang ke rumah. Paling tinggal control dan berobat jalan. Ada satu lagi masalah yang harus segera diselesaikan, mobil kantor yang kupake nabrak kemaren. Rusaknya lumayan, bempernya peyok dan lecet-lecet.
Untung saja ada teman yang pengalaman soal mobil. Maksudku..karena beliaunya makelar mobil :p Dalam dua hari, mobil itu sudah kembali seperti semula, lebih mulus bahkan. Akhirnya, semua masalah terselesaikan juga. Satu pelajaran lagi aku dapatkan, dengan banyak sub bab tentunya J Menyelesaikan masalah, emm… tanpa masalah (menurutku sih he..:p). Paling tidak kecelakaan kemaren tidak sampai berurusan dengan polisi. Habiez…aku ga punya SIM je hehe….V ^-^


<< Home