February 22, 2008

(Pudarnya) Pesona Ayat-ayat Cinta (bag. 2)

“Mbak, ada 13 miscall”, teriak temanku menghampiri sambil membawakan ponselku.
“Eh, masak sih?!”, sahutku.
“Udah suaranya kecil, naruhnya dibalik, ditutupin buku pula”, lanjut temanku sewot.
“Hehe..iya ya..?!!”, cengirku.

Hari itu, aku sengaja menginap di rumah temanku. Kami berencana mencoba resep hasil mengcopy dari internet. Beef steak dan aneka minuman segar. Ketika ponselku berbunyi, aku sedang sibuk di dapur. Kuletakkan ponselku begitu saja di tempat tidur. Dengan kondisi yang digambarkan temanku tadi, pantas saja jika aku tidak mendengar deringnya :p

“Mbak, ini Ara. Tolong diangkat telphonenya. Penting”. Sebuah sms muncul dilayar
“Subhannallah..sudah hampir ½ jam yang lalu”, ujarku sambil menatap kearah temanku. Diapun tertawa.

Tut..tut..
”Assalamu’alaikum”, sapa gadis diseberang sana
“Wa’alaikumsalam warohmatullah”, jawabku. “Ara ya?! Maaf tadi ga dengar. Ada apa, Ra?", lanjutku kemudian.
“Mbak, ini Eno. Temennya Ara. Ara kecelakaan”
“Hah!! Kecelakaan?!! Dimana..?”, potongku sebelum dia selesai bicara.
“Sekarang lagi di Kuto. Dia minta pulang atau klo ga dirawat di PKU aja. Bisa minta tolong dipinjamin mobil kantor ga?”
“Iya..aku usahain deh. Tunggu kabar dariku ya”. Klik

Sejenak aku berpikir,” Bagaimana caranya aku kesana ya? Klo harus ke kantor dulu, kelamaan. Butuh waktu 30 menit. Belum lagi ke Kuto, butuh 30 menit lagi. Paling tidak 1 jam aku baru nyampe sana. Ah..kelamaan. Emm..coba telephone kantor ah. Sapa tau ada pak satpam, jadi bisa minta tolong bawa mobil kesana”.

Beberapa saat aku mencoba menghubungi beberapa teman untuk mencari sekaligus meminta ijin untuk menggunakan mobil kantor. Setelah mendapatkan ijin, aku pun berniat menelphone mereka agar menunggu karena sebentar lagi mobil jemputan akan segera datang. Belum sampai aku menghubungi mereka, ternyata mereka mengabarkan bahwa mobil untuk membawa Ara ke PKU sudah ada. Katanya mau diantar sama teman mereka yang ada di Kuto. Lega rasanya mendengar itu. Menyesal juga dari tadi aku tidak mendengar telephone mereka.

***

“Maaf mbak baru bales. Semalam Ara lemes banget, muntah-muntah terus. Sekarang di PKU”, sebuah sms baru saja kuterima, jawaban dari smsku semalam.
“Muntah-muntah..?! Brarti parah dong mbak, gagar otak”, ucapku pada temanku sedikit kaget.
“Wah..iya tuh mbak”, ujarnya singkat.

Ketika sampai kantor, aku mampir ke PKU yang kebetulan dekat dengan tempat kerjaku.
“Assalamu’alaikum..”, aku mengucapkan salam sambil mengetuk pintu kamar vip 6.
“Wa’alaikumsalam..”, sebuah suara terdengar dari dalam kamar.
Tampak seorang gadis yang sebaya dengan Ara membukakan pintu untukku dan temanku.
“Halo, Ra. Gimana?”, tanyaku pada gadis yang tengah berbaring di diatas tempat tidur.
“Ngga apa-apa, mbak. Lukanya sudah dijahit”, jawabnya sambil memperlihatkan luka pada kaki dan tangan kanannya.
“Dijahit berapa tuh?”, tanyaku lagi.
“Sepuluh mbak. Rencana nanti mo dirontgen”
“Motornya? Sekarang dimana?”
“Masih di kantor polisi, mbak”
“O..sampai urusan polisi ya?”
“Iya”

Obrolan kami pun mengalir. Sesekali aku melihat wajah Ara meringis kesakitan. Dan beberapa kali pula aku merasa miris melihat lukanya. Luka pada kaki kanannya memang sudah dijahit, tapi terlihat darah masih merembes dari perban yang berwarna putih. Selain itu, ukuran kaki Ara jadi dua kali lipat dari aslinya dan berwarna biru. Hmh..pasti sakit sekali.

“Ra, udah dulu ya. Aku harus balik kerja. Insya Allah ntar kesini lagi”, tuturku mengakhiri obrolan kami.
“Iya, mbak. Makasih ya”. Aku hanya tersenyum mendengarnya.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam”

***

Arloji tanganku menunjuk jam 19.30 WIB. Setelah menyelesaikan pekerjaan mencuci, akupun bergegas pergi ke PKU menengok Ara.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam”. Masih gadis yang sama yang membukakan pintu untukku.
“Gimana Ra, dah dirontgen? Apa hasilnya?”, tanyaku setelah dekat dengan tempat dia berbaring.
“Tulang jarinya patah, mbak”, jawabnya.
“Kakinya harus digibs. Tadi dibius total, mbak”, kali ini Eno, gadis yang dari siang tadi disana menjelaskan padaku.
“Keluarga dikasih tau ngga?”
“Iya, tapi Ara bilangnya typoid. Trus ibunya nyuruh kakaknya kesini”
“Heh?! Typoid..?!!”, kaget juga aku, Ara ada-ada aja. “Trus, kakak kapan kesini?”
“Tadi berangkat jam 5 sore. Paling jam 8 nanti nyampe, mbak”
“Emm…”, sambutku sambil manggut-manggut.

“Assalamu’alaikum”, suara salam terdengar riuh diluar.
“Wa’alaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh”. Ternyata teman-teman kuliah Ara.
Kamar VIP 6 itu mendadak jadi rame oleh suara mereka.
“Eh, pinjem hasil foto rontgennya yuk”, ajak Eno pada temannya.
“Nggak ah”, tolak teman yang diajaknya itu.
“Ayolah…”, bujuk Eno tak menyerah.
“Sama aku aja”, sahut Anto yang kebetulan paling senior diantara mereka.
“Yuk, tapi mas Anto yang pinjem ya”, rajuk Eno.
“Huu..dasar”, sambar teman-teman yang lain.

Beberapa saat kemudian, amplop besar kuning sudah ada di tangan Eno. Dia mengeluarkan isi dan menerawangnya. Mereka adalah mahasiswa dan mahasiswi kesehatan, jadi sedikit banyak mereka bisa membaca hasil rontgen. Panjang lebar Eno menjelaskan padaku. Aku melihat ada yang aneh pada gambar tersebut, dua jari sepertinya patah.

“Jahitannya dibuka tadi, Ra?”, tanyaku sambil mengalihkan pandang ke Ara.
“Iya mbak, dibersihin. Lukanya kotor banget”, jawabnya.
Bergantian teman-teman Ara melihat, membaca dan mengkomentari hasil foto roentgen tersebut. Ada sebagian lagi yang asyik mengerjakan tugas untuk besok pagi.

“Assalamu’alaikum”, terdengar sebuah salam dari luar pintu.
“Wa’alaikumsalam”, jawab kami serempak. Hmm…kakaknya Ara ternyata.
“Deuh…ni anak. Bohong ya. Ktanya typoid, ini kenapa diperban-perban segala?”, suara kakak Ara tampak khawatir begitu melihat keadaan adiknya.
Yang ditanya cuma mesam-mesem saja. Percakapan pun terjadi antara mereka. Sesekali terdengar kalimat-kalimat aneh keluar dari mulut mereka. Maklum mereka orang luar Jawa, jadi aku dan teman-teman Ara memilih nonton televisi daripada mendengarkan percakapan mereka.

“Hmf..sudah malam. Aku harus pulang”, pikirku.
“Perlu diantar ngga, mbak?”, tawar salah seorang anak begitu aku sudah sampai di pintu.
Aku tersenyum mendengar itu. “Justru takut klo dianter hehe..”, jawabku sekenanya.
“Grr…”, kontan saja paduan suara tawa pun berderai.
Akhirnya, sendiri aku berjalan menembus dingin malam. Hmh..dekat ini.

***

Kring..kring..
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam. Mbak ini Uli, lagi dimana?”
“Aku baru aja nyampe kost. Ada apa, Li?, aku memperlambat jalanku.
“Bisa ke PKU bentar ngga? Ara pingin pulang nih”
“Oh iya. Tunggu bentar ya”
“Iya. Makasih. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam warohmatullah”. Aku melirik arloji, pukul 14.30 WIB.
“Aku ngga punya banyak waktu”, lirihku sambil setengah berlari ke dalam rumah.

Sore itu aku berencana pulang ke Solo. Aku sudah ketinggalan kereta dari tadi, makanya aku memutuskan untuk naik bus. Dan aku harus buru-buru jika tidak ingin kemalaman di jalan. Usai menyiapkan perlengkapan pulang, aku bergegas menuju PKU. Dalam hati aku bertanya, ada apa gerangan dengan Ara.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam”
“Gimana Li , ada apa?”, tanyaku penasaran setelah aku sampai di PKU.
“Gini mbak. Ara pingin pulang. Biaya rumah sakit sudah habis 4 jutaan, hampir 5 juta. Ara baru bisa bayar 1/2nya dulu. Tapi sama pihak rumah sakit ngga boleh pulang sebelum lunas”, jelas Uli padaku.
“Beneran Ra mo pulang? Udah ngga apa-apa gitu?”, kali ini aku bertanya pada Ara meminta konfirmasi.
“Ngga apa-apa, mbak. Iya pingin pulang. Dirawat sendiri aja”, jawab Ara, wajahnya tampak kusut.
“Ya udah. Aku coba telephone pimpinan dulu ya, minta tolong”.

Tak berapa lama, kabar gembira kuterima. Ara boleh keluar rumah sakit tanpa membayar lunas dulu.
“Tunggu mbak Ayu ya, Ra. Ntar dia kesini bawa berkas-berkasnya”, ujarku pada Ara setelah kusampaikan berita itu padanya.
“Iya, mbak. Makasih”, senyum bahagia terukir di bibirnya.
Aku termenung dan berpikir, “Sudah habis 4 jutaan? Mahal sekali”.
“Trus orang yang nabrak kamu gimana, Ra? Dia ikut nanggung biayanya ga?”, iseng-iseng aku bertanya pada Ara.
“Cuma bantu 500 ribu, mbak”
“Hah?! 500 ribu tok?! Enak banget, Ra”
“Ngga tau, mbak”, jawab Ara dengan nada pasrah.
“Ups..aku hanya orang luar. Tidak seharusnya ikut campur tangan terlalu banyak. Toh sudah ada kakaknya. Mungkin sebaiknya aku segera pulang, sudah jam ½ 4”, ujarku dalam hati.

***

Sepekan berlalu sejak peristiwa itu. Ibu Ara yang berada di luar Jawa pun akhirnya datang juga setelah tau bahwa putrinya mengalami kecelakaan, bukan sakit typoid seperti akunya dulu. Betapa terkejutnya beliau setelah mengetahui keadaan Ara. Dan lebih mengejutkan lagi, kasusnya dinyatakan ditutup. Ternyata sang kakak telah membuat kesepakatan yang isinya merugikan pihak Ara. Bahwa si penabrak hanya membantu biaya pengobatan sebesar 500 ribu. Pihak korban tidak boleh menuntut jasa raharja, apabila nanti menuntut maka akan diperkarakan secara pidana dan perdata.
Itulah hasil ‘perdamaian’ diantara mereka, dengan polisi sebagai saksi. Ironisnya lagi, semua kuitansi operasi yang hampir mencapai 5 jutaan itu diambil oleh polisi. Subhannallah..aku tidak tau harus berpikir apa tentang aparat keamanan yang katanya pengayom masyarakat. Ibu Ara geram melihat kenyataan itu. Beliau tidak terima, anaknya sudah sakit masih juga didholimi. Entah mana yang salah dan harus dipersalahkan. Si penabrak yang terkesan lari dari tanggungjawab, aparat keamanan yang bermaksud ‘mendamaikan’, atokah kakak Ara yang terlalu lugu. Aku diam mendengar penjelasan ibu Ara yang terlihat menahan emosinya. Aku tak menyangka jika masalahnya jadi serumit ini.
“Ah..seandainya aku dapat menolong”, pikirku

***

“Bagaimana keadaan Ara, mbak?”, tanya salah seorang pimpinan padaku suatu hari. Beliau tau, klo Ara satu kost denganku.
“Kayaknya rada baikan pak. Tapi jalannya pake kurk. Trus katanya jasa raharjanya diambil polisi”, jawabku ringan.
“Lho, kok bisa?!”
Cerita ibu Ara semalam kuulang kembali dengan versiku, tentu saja tanpa menambahi dan menguranginya.

Ada harapan juga klo pimpinanku itu bersedia membantu. Dan benar saja, setelah kudapat no ponsel polisi yang mengurusi kasus Ara, pimpinanku pun segera menghubunginya. Mungkin beliau tidak terima juga mahasiswanya diperlakukan seperti itu.
Keesokan harinya, ibu Ara mulai mengurus syarat-syarat pengajuan jasa raharja. Tapi proses itu terkesan dipersulit oleh pihak kepolisian. Sampai-sampai pimpinanku mendatangi kantor polisi tersebut. Beliau juga meminta surat pernyataan yang pernah dibuat oleh kakak Ara. Tapi sungguh mengejutkan, polisi itu berkata bahwa tidak pernah ada surat pernyataan. Feuh…lelucon apa ini??

Cape’ deh..Setelah sedikit alot, akhirnya surat keterangan kejadian kecelakaan pun dikeluarkan oleh polsek itu. Satu masalah lagi terselesaikan.

***

“Mbak, besok Ara dioperasi lagi”, kata ibu Ara kepadaku di dapur.
“Dioperasi lagi, bu?”, tanyaku heran.
“Iya, mbak. Kali ini lukanya mo dibuka. Saya sudah bilang sama dokternya klo biayanya mahal saya ngga kuat bayar. Kata dokternya, saya ngga usah bayar biaya dokter. Cuma ngganti bahan habis pake sama alatnya. Paling-paling 1 jutaan”, jelas sang ibu.
“Oh..syukurlah”, komentarku pendek.

Dalam kamar, aku termenung.
“Ada apa dengan Ara. Kenapa masalahnya datang bertubi-tubi?!”.
Pikiranku melayang berusaha mencari jawab.
“Apakah ini cobaan untuk Ara?”. Aku masih ingat, sekian minggu yang lalu Ara ‘berubah’. Sekian minggu yang lalu, dia menjadi Ara yang baru. Mungkinkah ini ujian baginya? Tanya itu memenuhi kepalaku. Hmf..sudahlah.

***

“Bagaimana kaki Ara, bu?”, tanyaku pada ibu Ara setelah kakinya dioperasi.
“Sudah baikan, mbak. Kemarin pas habis dioperasi dia menjerit-jerit melihat kakinya. Soalnya bentuknya tidak seperti kaki, ketarik kesana ketarik kesini. Dia nangis terus dan ngga mau makan. Dia terus bertanya, “Emak kenapa kaki Ara jadi seperti ini”. Ibu bujuk-bujuk, akhirnya mau makan. Ibu kasih obat Cina, jadinya lebih cepat kering”, jelas ibu dengan mata berkaca mengenang peristiwa itu.

Aku memang sudah 4 hari tidak bertemu dan melihat Ara karena pulang kampung.
Ada perasaan aneh hadir dalam hatiku. Takut, sedih, kasian, dan entah apalagi. Aku menarik nafas panjang demi menjaga agar airmata ini tidak mengalir.

“Iya, mbak. Kemarin tu mbak Ara nangis sambil njerit-njerit ngeliat kakinya. Kayaknya dia kecewa”, kali ini mbak Uun yang bicara. Dia memang ikut menyaksikan kejadian itu.
“Eh Na, aku lha ngrasa klo itu cobaan buat Ara. Kamu inget kan perubahannya kemarin? Aku takut klo dia berpikiran ‘kenapa disaat aku ingin dekat dengan Allah, Dia memberiku musibah ini’”, sambung mbak Reni.
“Iya mbak, kayaknya begitu”, mbak Uun menimpali.
Adarasa perih tiba-tiba hadir.
“Kemarin aku juga sempat kepikiran begitu, mbak”, ujarku pelan.
“Na, tolonglah dikasih buku ato bacaan apa biar dia ngga down banget. Dia udah ngga kayak kemaren lho. kemaren kan hal-hal kecil aja dikomentari, kayak ‘ih..bajunya lucu’. Sekarang nyapa aja dengan senyum dipaksain, Na”, aku mendengar nada kecewa dari suara mbak Reni.
“Aku ngga tau harus bicara apa, mbak”, lirihku tertahan.

Sejujurnya aku ngga enak, karena ibu Ara sudah ada disampingnya. Beliau lebih bisa menenangkannya, pikirku.

***

Beberapa hari setelah peristiwa itu, keadaan Ara semakin membaik. Tiap malam, seorang perawat datang untuk menggantikan perban lukanya agar tetap bersih. Berangsur-angsur, masalahnya selesai satu per satu.
“Na, Ara tadi keluar sudah ngga pake jilbab lagi”, ujar mbak Reni padaku suatu hari, disaat kami sedang makan malam.
Deg.
Hanya ekspresi kecewa yang bisa kuhadirkan untuk merespon kata-kata mbak Reni tadi.
“Ra, semoga Allah memberimu kekuatan menghadapi ujian ini. Jangan engkau biarkan pesona itu kembali memudar”, hanya harapan itu yang mampu kuuntai untukmu, Ara.