Belajar menjadi yang Terlupakan
“Indah sekali langit malam ini”, lirihku menatap tabur bintang di mayapada.
“Rasi bintang pari, menunjuk kearah selatan. Rasi bintang scorpio, menunjuk kearah tenggara”, sesekali aku bergumam sambil terus memandangi gugusan bintang itu. Mungkin hanya dua rasi bintang itu yang kumengerti hehe..
Sekilas, terlihat ada berkas cahaya melintas cepat. “Hmm..meteor. Syetan yang mencuri kabar dari langit baru saja dilempar dengan bintang. Kok ada ya orang yang berdoa ketika ada bintang jatuh??Brarti dia berdoa pada syetan dong”, monolog-monolog tak beraturan terus meluncur dari mulutku, masih tentang bintang dan apa saja yang kukagumi.
Diam sejenak membawa pikirku menari dan berlari. Tiga belas tahun silam, aku suka sekali melihat langit malam di teras rumah. Sambil berkhayal ala anak ABG alias Anak Baru Gedhe, maklum masih SMP. Aku tak peduli riuh suara teman-teman kecilku yang bermain. Bahagia dengan duniaku.
"Hmh..cepat sekali waktu berlalu. Bukankah bintang itu masih bintang yang dulu?? Hey..kenapa tak ada pesawat terbang lewat?”, tanyaku sambil berusaha berdiri dengan hati-hati, takut kalau memecahkan genting. Karena kali ini aku tidak berada di teras rumah, melainkan di atap rumah. Cahaya pesawat terbang di malam hari adalah bagian yang paling kusuka tiap melihat langit. Selain bagus, dia juga bagian terpenting dalam khayalan ABG-ku (norak ya..?!)
“Bukankah hari ini tanggal 15?! Kok bulannya ga keliatan sih?”, pelan aku merambat ke sisi yang memungkinkan untukku melihat bulan.
"Yah..tertutup pohon. Pasti bagus klo ngeliatnya di pantai, ato mungkin di sawah”, desahku kecewa sambil memandang kearah timur yang terlihat terang oleh purnama.
“Hmf..cukup untuk malam ini, kapan-kapan lagi”. Sebelum menyudahi menikmati malam, aku menguntai beberapa bait doa. Sama…seperti hari-hari yang telah lalu. Ditempat ini, aku menatap indah malam. Disini pula aku melihat matahari tenggelam dan mengagumi mentari terbit. Tempatku jika ingin sendiri. Tempatku jika ingin berbagi dengan alam. Tempatku merenungi segalanya. Bahagia, duka, tawa, canda, airmata, juga dosa.
“Tak ada yang abadi di dunia ini. Segalanya akan berubah. Yang abadi hanyalah perubahan itu sendiri”.
"Aku tak ingin menjadi masa lalumu, Sobat. Aku juga ingin menjadi masa kini, juga masa depanmu (jika aku masih sanggup). Aku akan belajar untuk menjadi bagian yang terlupakan dalam hidupmu. Tapi aku juga akan belajar untuk tidak melupakanmu. Meski semua telah berubah”.
>> sebuah renungan dari sekian peristiwa (“Aku ada, dan selalu akan ada, Sobat. Hm..walau mungkin…..kau tak menganggap diriku ada. Bahkan mungkin tak kau sadari, semua ini kurangkai untukmu. Aku selalu menyayangimu. Dulu, sekarang, dan semoga sampai nanti, Sobat”)
“Rasi bintang pari, menunjuk kearah selatan. Rasi bintang scorpio, menunjuk kearah tenggara”, sesekali aku bergumam sambil terus memandangi gugusan bintang itu. Mungkin hanya dua rasi bintang itu yang kumengerti hehe..
Sekilas, terlihat ada berkas cahaya melintas cepat. “Hmm..meteor. Syetan yang mencuri kabar dari langit baru saja dilempar dengan bintang. Kok ada ya orang yang berdoa ketika ada bintang jatuh??Brarti dia berdoa pada syetan dong”, monolog-monolog tak beraturan terus meluncur dari mulutku, masih tentang bintang dan apa saja yang kukagumi.
Diam sejenak membawa pikirku menari dan berlari. Tiga belas tahun silam, aku suka sekali melihat langit malam di teras rumah. Sambil berkhayal ala anak ABG alias Anak Baru Gedhe, maklum masih SMP. Aku tak peduli riuh suara teman-teman kecilku yang bermain. Bahagia dengan duniaku.
"Hmh..cepat sekali waktu berlalu. Bukankah bintang itu masih bintang yang dulu?? Hey..kenapa tak ada pesawat terbang lewat?”, tanyaku sambil berusaha berdiri dengan hati-hati, takut kalau memecahkan genting. Karena kali ini aku tidak berada di teras rumah, melainkan di atap rumah. Cahaya pesawat terbang di malam hari adalah bagian yang paling kusuka tiap melihat langit. Selain bagus, dia juga bagian terpenting dalam khayalan ABG-ku (norak ya..?!)
“Bukankah hari ini tanggal 15?! Kok bulannya ga keliatan sih?”, pelan aku merambat ke sisi yang memungkinkan untukku melihat bulan.
"Yah..tertutup pohon. Pasti bagus klo ngeliatnya di pantai, ato mungkin di sawah”, desahku kecewa sambil memandang kearah timur yang terlihat terang oleh purnama.
“Hmf..cukup untuk malam ini, kapan-kapan lagi”. Sebelum menyudahi menikmati malam, aku menguntai beberapa bait doa. Sama…seperti hari-hari yang telah lalu. Ditempat ini, aku menatap indah malam. Disini pula aku melihat matahari tenggelam dan mengagumi mentari terbit. Tempatku jika ingin sendiri. Tempatku jika ingin berbagi dengan alam. Tempatku merenungi segalanya. Bahagia, duka, tawa, canda, airmata, juga dosa.
“Tak ada yang abadi di dunia ini. Segalanya akan berubah. Yang abadi hanyalah perubahan itu sendiri”.
"Aku tak ingin menjadi masa lalumu, Sobat. Aku juga ingin menjadi masa kini, juga masa depanmu (jika aku masih sanggup). Aku akan belajar untuk menjadi bagian yang terlupakan dalam hidupmu. Tapi aku juga akan belajar untuk tidak melupakanmu. Meski semua telah berubah”.
>> sebuah renungan dari sekian peristiwa (“Aku ada, dan selalu akan ada, Sobat. Hm..walau mungkin…..kau tak menganggap diriku ada. Bahkan mungkin tak kau sadari, semua ini kurangkai untukmu. Aku selalu menyayangimu. Dulu, sekarang, dan semoga sampai nanti, Sobat”)


<< Home