Sebelum Terlambat…
Saat aku selesai membaca kisah ini, aku belajar lagi satu hal. Kata maaf termasuk salah satu dari sekian kata yang sulit untuk diucapkan. Mungkin beberapa org menganggap, perbuatan lebih berarti dari hanya sekedar ucapan. Tapi apapun bahasanya, bila dilakukan dengan tulus akan jadi lebih indah (mungkin??!! ^-^)
Memaafkan juga bukan hal yang mudah (utk bbrp org tentunya). Tapi pernah ada satu kalimat yang aku dengar, “forgiven not forgotten” (…..????). Wot everlah…aku hanya berharap cerita ini bisa menginspirasi untuk mereka yang sulit memaafkan dan berkata maaf atau mungkin menundanya. Cerita ini aku ambil dari buku kumpulan cerpen kehidupan rumah tangga, seri Keikhlasan Cinta Diana dengan judul “Sebuah SMS yang tak Sampai”, ditulis oleh Halfino Berry. Selamat membaca ……
***
Dek, kesabaran istri itu menumbuhkan keridhaan dari suaminya…
Itu bunyi pesan dari Bang Rizal yang masih tersimpan dan bisa dibaca di display HP-ku sejak setahun yang lalu. Begitulah kami sering berkomunikasi. Praktis. Teknologi sms (short message service) via HP benar-benar alternative yang murah meriah. Semenjak aku mendapat ‘hibah’ handphone dari Papap, ia jadi sarana komunikasi harian kami. Ah, ya, waktu itu handphone memang belum sebanyak sekarang, harganya masih mahal, juga layanan masih terbatas.
Kadang selagi aku suntuk di rumah sepulang kerja-kami belum dikarunia anak, maklum nikahnya juga belum lama-tiba-tiba HP-ku berbunyi. Dan klik, muncullah pesan :
dek, lg ga ada kerjaan ya? Mending baca buku deh!
Atau malam saat ia sedang ada ke luar kota,
jgn lupa shalat mlm ya!
Atau saat sedang jenuh di kantor,
dik, coba tebak : apa kesamaan telpon dgn jemuran? Tau ah glp.
Aku mengernyitkan dan membalas.
Kalau kring sm2 diangkat yee,
dan terbayang cengiran nakalnya di mataku.
***
Jumat sore itu aku uring-uringan. Bang Rizal ini, kadang-kadang sifat pelupanya membuat aku frustasi. Terutama kalau sudah seperti ini.
“Dek, aduh afwan jiddan. Abang lupa kalo besok besok pagi harus turun membantu kasus di Semarang. Kayaknya kita besok ngga bisa ke Mamah-Papap ya?”
Huh. Abaaang. Gimana siiih? Kami sudah sepakat pekan ini mampir ke rumah orangtuaku. Dan hitung-hitung, sudah hampir dua bulan kami belum ke sana. Ada-ada saja halangannya. “Minta diganti sama yang lain aja!” tuntutku manja.
“Ya, nggak bisa dong, Dek. Ke mereka kan sudah tanggung jawab Abang.”
“Ya, ke Mamah juga tanggung jawab!”
“Iya, Abang tahu, tapi kan ke Mamah bisa lain kali lagi, pekan depan, gitu? Sementara ini kan tugas dakwah juga, Dek”
Iya. Aku tahu. Ia sering diundang atas nama LSM-nya membantu problem hukum bagi rakyat kecil, sampai ke mana-mana. “Mengembangkan kekuatan umat dalam bidang hukum’ begitu katanya. Dalam sepekan bisa dua atau tiga kali ia ke luar kota. Kadang sampai malam, kadang lebih dari sehari. Aku tahu, ia ingin mengembangakan kafaah-nya kepada sebanyak mungkin orang. Itulah ladang dakwahnya. Tapi tetap saja…
Aku pun terdiam lama, menekuri pola-pola biru di karpet.
“Gini deh, nanti Abang usahakan nggak usah sampe besok pagi, gantian dengan Akh Hakim, jadi nanti malam Abang langsung balik, dan kita ke Mamah Ahad pagi, gimana?”
Mataku berbinar. “Ya deh, tapi bener ya?”
“Iya. Insya Allah.”
“Suer?” kolokanku muncul lagi.
“Suer.” Ia mengedip.
Huuu…
***
Dek, tau ngga, tu hp sekarang bisa buat maen puzzle?
Ah msk? Ajarin dong? Aku balas.
Gampang, pertama banting ut hp, trus susun satu-satu…hehe.
Huuu…
***
Sabtu malam.
Aku sedang membaca-baca majalah…hm, artikel tentang kerelaan suami pada istri. Ah, bisakah aku menjadi lebih baik dari yang selama ini? Aku merenung.
Kriiiiing.
Segera kuangkat. Dari Bang Rizal.
“..Adek istri yang shalihah, kan ya?” suaranya dari seberang setelah bertukar salam. Nah lho. Pasti ada apa-apanya.
“Iya. Maunya. Pasti ada sesuatu ya?” tebakku sambil memilin-milin kabel telefon.
“Mmm…,” seperti biasa, kalau ia sedang mempertimbangkan sesuatu, “dek, aku bener-bener nggak bisa ninggalin kasus ini sekarang. Kelengkapan datanya baru bisa diperoleh besok. Dan nggak ada yang bisa gantiin Abang. Aduh Dek, subhanallah, kalau kita menang, impak dakwahnya akan luar biasa!...”
Abang kok gitu siiih? Protesku dalam hati, tapi yang keluar dari mulutku adalah, “Bang, Mamah-Papap udah dijanjiian besok. Mamah udah nyiapin macem-macem khusus buat kita.”
Dia diam.
Aku pun tidak bicara lagi.
“Udah, pokoknya Adek malam ini sebel sama Abang! Assalamu’alaikum!” dengan mata sebak kututup telefon tanpa menunggu jawabnya.
Bunyi telefon beberapa kali kemudian pun tak kutanggapi. Aku bergegas ke kamar dan membenamkan wajah basah di bantal.
Sejam kemudian perasaanku agak reda, dan telefon berbunyi lagi. Hm, pasti…”Pokoknya nggak rela!” langsung kusambar sebelum ia sempat berkata-kata.
“Dina? Ada apa, Nak?” Ups, Mamah ternyata, sodara!
Dengan malu-malu aku menjelaskan semuanya. Dan, yah, mulailah Mamah menguliahiku, seperti saat dulu aku akan menikah. Bla…bla…bla. Ya Mah, iya Mah, Dina tahu Mah. Jawabku mengangguk-angguk.
Namun tetap saja. Beberapa saat kemudian, ketika telefon berdering lagi, kabelnya kucabut dan aku kembali masuk kamar. Majalah yang kubaca tadi kubiarkan tergeletak di atas meja.
***
Siang itu aku bertandang ke rumah seorang ustadzah kenalanku. Silaturahim. Jadwal ke Mamah Papap kulupakan dulu. Rumah Mbak Sita dekat kontrakan kami, dan kebetulan suaminya pun sedang ada acara. Sejenak disana aku dapat melepaskan pikiran, dan bermain dengan putra-putrinya yang 3 orang itu. Ah, aku memang mencintai anak-anak. Aku senang berada di tengah-tengah mereka. Dan, aku baru sadar, sepertinya haidku terlambat…ahh, mungkinkah? Ah, mungkin nanti aku bisa mampir ke apotek membeli perangkat tes…
Tiii-ti-tiit.
Sekali lagi. Selama disana, tiii-ti-tiit itu berkumandang selang beberapa saat. Yah, mau tak mau walau masih sebel aku tergerak untuk buka juga…heh, aneh ya? Benci tapi rindu…heh, memangnya judul lagu?
Dek, kayaknya bisa diselesaikan dengan baik nih
Beberapa saat kemudian…
Barusan dah beres, mrk semangat sekali, eh masih marah ya?jwb dong? Plz!
Hmh. Hatiku masih bergeming.
Lagi setengah jam kemudian.
Dek, udah di jln nih, abang blk dg ka jam 7. nyampe subuh Insya Allah.
Lagi.
Dek, jgn diem aja doong!
Begitulah, suamiku memang keukeuh. Dan sebenarnya suasana hatiku sendiri sudah mulai baikan. Di dasar hati aku bertanya, patutkah apa yang kulakukan ini? Tapi ini salahnya kan?
Biru. Langit biru. Hatiku kelabu.
***
Beep.
Aku terbangun, hampir jam 11 malam.
Dek, kyknya ada hmbtn nih. Ka semua jalur tertahan. Dipindah ke bus. Nyampe di jkt bkln tlt.
Biarin dulu ah…
Ada lagi.
Habis, adek ga ridha sih
Aku meneruskan tidur.
Mungkin juga bermimpi. Sekilas kuingat aku berjalan bersisian dengan Bang Rizal di pinggir sungai, dikelilingi pohon-pohon. Ah, Abang.
***
Begitu terbangun, badai di hatiku sempurna usai.
Apalagi selepas shalat. Ah ya, apa hasil tes yang tadi kudiamkan sebelum jatuh tertidur? Bergegas aku mendapatkan.
Hmmmm?Haa?Subhanallah. Aku positif! Alhamdulillah...Aku bersujud.
Lama.
Ah, aku ingin menyampaikannya kepada Bang Rizal begitu dia datang. Sudah sampai mana ya, dia sekarang?
Eh, tapi kan lagi sebel?
Namun, toh rasa kangen mulai terasa menyentak-nyentak dadaku. Senyumannya terasa menggantung di langit-langit hatiku. Duh, Abang. Maafkan aku. Kuraih HP-ku.
Ow, HP-ku mati. Baterainya habis.
Segera kupasang charger-nya. Dan bunyi beep langsung terdengar.
He, jgn lupa QL ya?
Uh, udah telat, Bang! Batinku. Dan ada lagi.
Dek, kesabaran istri itu menumbuhkan keridhaan dari suaminya. Adek harus belajar lagi ya.
Rupanya ini pesan-pesannya sewaktu aku masih tertidur, ketika HP-ku tidak menyala.
Kucoba menelefon. Tanpa reaksi. Mungkin di luar jangkauan.
Maka kuketiklah tuts-tuts HP, isi hatiku :
Bang, adek minta maaf. Relakan ya Bang? Nanti adek siapin semur fvrt Abang deh. Pkknya jgn marah ya? Cpt plg. Ade ada kejutan buesar buat Abang neh!.
Klik. Klik. Sent. Beep
Namun yang terbaca di display : not delivered. Ah, karena di luar area. Nanti juga nyampe, pikirku. Baiklah sekarang aku ke warung sebentar, mencari bahan masakan.
Kriiiing.
Mamah.
“Bagaimana, sudah minta maaf?”
“Belon Mah, belon juga datang.” Kuterangkan kejadian di perjalanannya.
***
Sepagi itu aku mengasyikkan diri di dapur. Cerahnya sinar mentari seakan ikut membuat hatiku berbunga-bunga. Memasakkan makanan kesukaan orang yang kita cinta memang menyengkan, ya? Uh, pipiku merona.
Pokoknya aku ingin pagi ini semuanya sempurna. Mmm, bagaimana ya aku mengatakannya? “Bang, mau nggak dikasih hadiah istimewa?” atau…
***
Sudah jam 11.40 siang.
Aku mulai resah menunggu. Sudah beberapa kali kukontak HP-nya, tapi masih tidak ada reaksi.
Mendadak dari ruang tengah dering telefon. Diakah?
Ternyata bukan.
“Ada apa, Mah?”
“Din,…duh Mamah takut ada apa-apa, coba lihat berita TV sekarang…” suara gugup Mamah membuat pikiranku pun tak menentu. Ada apa?
Segera kunyalakan TV 14” kami, dan seperti setengah sadar kucerna makna kata-kata yang menerobos kekalutan pikiranku : “…tanah longsor…akibatnya kereta api dari Semarang terhambat. Dan sebuah bis yang disediakan untuk para penumpang justru mengalami kecelakaan pukul 5 pagi tadi..”
Mau tak mau aku juga membaca running text di layer bawah TV : Daftar nama para korban…
YA ALLAH!!!
Ada nama Rizal Mahendra di sana. Pertama kepalaku seakan kosong, kupingku kehilangan fungsi, otakku tumpul, seakan tak berdaya untuk memahami makna yang barusan memasukinya. Tanpa sadar kuraba perutku. Ohhh.. Semua terasa berputar-putar. Di pusatnya, rasa kehilangan itu pun menghunjam pelan-pelan, seperti sayatan pisau es di hatiku. Meneteskan pedih. Dan sesaat berikutnya, sebuah kesadaran lain tiba-tiba menampar benakku. Jam 5 pagi? Artinya…sms permintaan maafku tadi…tak pernah dibacanya? Ia tak akan pernah membacanya? Ya Allaaahhh…Air mataku tumpah tak tertahankan. Bang. Maafkan aku. Maafkan… Dek, kesabaran istri itu menumbuhkan keridhaan dari suaminya. Abaaaang…air mata terus mengaliri pipiku, menganak sungai. Dan di keburaman pandanganku, seolah aku melihatnya, tersenyum kabur. Adek harus belajar lagi ya? Aku ingin memanggilnya. Tapi suaraku hilang. Dan kakiku pun kehilangan daya. Aku tersimpuh di karpet biru berpola itu. Tersedu. Tanpa suara. ***


<< Home