Moments (bag.1)
Kebumen, 120108 20.55 WIB
Malam tampak biasa saja. Bersih, tapi tanpa bintang. Hanya bulan dengan wajahnya yang sayu berusaha bertahan. Aku dan temanku memasuki gerbang stasiun, clingukan mencari tempat utk duduk dan melepas barang bawaan yang lumayan berat.
“Mbak, toiletnya mana ya? Pingin ke belakang neh?”, tanya mbak pen2 sambil tengok kanan kiri.
“Hm..tuh”, jawabku sambil menunjuk sebuah papan bertuliskan toilet.
“Eh iya”, mbak pen2 pun langsung ngacir. Udah kebelet kali’.
Kira2 setengah jam lagi kami harus menunggu kereta Taksaka jurusan Jogja-Jakarta. Beruntung kami masih bisa menemukan tempat duduk di ruang tunggu eksekutif. Hm..dah lama juga aku ga ke Jkt. Satu tahunan kali ya…
“Kereta Taksaka Jurusan Yogyakarta-Jakarta sebentar lagi tiba di jalur 2. Kepada para penumpang dimohon utk mempersiapkan diri dan memeriksa barang bawaan. Jangan sampai ada yang ketinggalan”, suara dari ruang informasi jelas terdengar.
Kami dan beberapa penumpang lainnya segera menuju ke jalur 2, tempat kereta berhenti. Angin berhembus pelan, dingin.
“Kereta nomor berapa, mbak?”, tanya bapak petugas stasiun
“Nomor 8 pak”, jawabku singkat
“Nanti langsung nyari pintu yang dibuka aja ya, mbak. Biasanya ngga dibuka semua”, lanjut sang bapak.
“Oh iya, pak. Terima kasih”, balasku
Benar saja, saat kereta itu berhenti kami harus mencari-cari pintu mana yang terbuka. Tak berapa lama, peluit tanda kereta harus berangkat dibunyikan.
“Masya Allah cepetnya”, batinku.
“Kereta nomor berapa, mbak?”, seorang bapak yang mengenakan seragam petugas KA menanyai kami.
“Nomor 8, pak”, jawab mb pen2.
“Langsung aja ke kanan, mbak. Dua gerbong lg dari ini”.
“Terima kasih, pak”
Kami berjalan dan mencari nomor kereta kami. Kereta 8 nomor 6C dan 6D. Ups..ada seorang bapak yang menempati. Kami sempat ragu sejenak.
“Maaf, pak. Ini kereta berapa ya?”, tanyaku padanya.
“Kereta 8, mbak”, jawabnya “Mbaknya duduk disini ya?”, lanjutnya sambil memberesi selimut.
“Iya, pak”.
“Silakan, mbak”
“Terima kasih, pak”. Wah..jd ga enak neh.
Ahh…akhirnya kami menemukan tempat duduk. Nyaman juga, tinggal capeknya neh. Kamipun bersiap tidur.
“Eh, direkam dulu mb pen”, usulku padanya.
“Iya. Handycamnya di tasku”, jawabnya.
Setelah menghidupkan powernya, kamipun mulai berakting layaknya artis hehe…
“Hai..kami sudah dikreta neh. Mo ke Jkt”
“Hush..jgn keras-keras. Udah malem, ntar pada kebangun”
“Hihi..”, kami cekikikan berdua.
Malam semakin larut. Televisi di depan masih menyala dan memutar sebuah film. Entah film apa, aku tak begitu jelas. Daripada menganggur, akupun makan sebuah roti yang dibagikan oleh petugas. Lumayan, buat mengganjal perut yang kelaperan. Lewat stasiun purwokerto, aku masih terjaga. Tapi setelah itu, tak ingat apa2.
***
Kereta, 130108 03.30
Aku melayangkan pandangan keluar jendela. Mencoba mencari tahu, sampai dimana sekarang. Tapi tetap saja aku tak tau. Televisi di depan sudah berganti channel. Kali ini menayangkan program dari televisi kabel KA. Mereka hanya memutar lagu2.
Kumencintaimu..lebih dari apapun
Kumencintaimu..sedalam-dalam hatiku
Meskipun engkau hanya kekasih gelapku
Brrt….brrt…
Aku memandang kearah mbak pen2, kami saling pandang dan tertawa bersama. Karena televisi itu tiba-tiba juga jadi gelap. Wah..lagunya berubah tuh, bukan kekasih gelapku tapi TV gelapku. Hihi..geli juga. TV aja tau!!
Tak berapa lama, 2 petugas meminta selimut2 kami. Tidak membangunkan seh, hanya meminta selimutnya. Tapi sama aja, keretanya kan berAC, klo ngga pake selimut bgmn bisa tidur?? Hm..cerdas juga caranya.
“Stasiun Jatinegara..”, suara riuh mulai terdengar.
Mereka yang hendak turun, bersiap-siap mengambil dan memeriksa barang2.
“Halo mel. Aku dah nyampe jatinegara neh”, aku menelpon seorang teman yang mo menjemputku dan membantu mencarikan penginapan.
“Ok deh. Tunggu ya”, sahut suara diseberang.
Klik..
“Huam…ngantuk. Rasanya masih pingin tidur”, desahku malas.
***
Gambir, 130108 05.10
Ah..gambir tidak berubah, masih saja bercat hijau. Kapan gambir dicat biru ya??
“Klo mo sholat subuh, sholat dulu aja di musholla stast gambir. Aku masih rada lama. Ntar tunggu di atm2 depan dunkin”, sms dari temanku menyadarkan klo memang belum sholat subuh.
Kami menuju musholla yang terletak di pojok stasiun. Aku menunggu temanku sholat sambil menjaga barang2. Menikmati Jkt pagi hari. Sudah banyak aktivitas ternyata.
“Emh..itu monas ya?!”, tanyaku dalam hati. Ternyata benar, aku baru nyadar. Ah..jadi ingat dulu. Kami naik mobil dan muter monas tiga kali hanya ingin ngambil gambarnya :p~~ hehe..jadi pingin ketawa.
“Sudah ya?!”, tanyaku pada mbak pen2 yang baru keluar dari musholla.
“Sudah”, jawabnya.
“Belum dateng ya?”, lanjutnya sambil mengenakan kaos kaki
“Belum. Eh, disuruh nunggu di atm2”, hampir saja lupa klo aku tak membuka lagi smsku.
“Depan dunkin ya?”
“Iya, ada ya?!”
“Ada, sebelah sana”
Kami pun bergegas kesana. Sambil melihat-lihat jadwal kereta buat kami pulang.
“Hai..halo”, seorang berkaca mata mendekat dan menyapa.
“Selamat datang di Jakarta”, ujar kemudian.
“Dah lama nunggu ya?”
“Belum”
Setelah berjabat tangan, kami berempat berjalan menuju parkiran. Oia, dia datang diantar kakak perempuannya. Aku tidak ingat jalan apa saja yang kami lewati. Yang kuingat adalah kami melewati Bunderan HI. Saat itu mbak pen2 menunjuk spanduk besar yang lagi hangat2nya dibicarakan di TV.
“Udah diganti national, mbak”, kataku padanya
“Iya..ya”, balasnya.
Mobil melaju lurus, belok ke kiri, disamping Chaze Plaza. Katanya daerah Setia Budi. Aku memang minta dicarikan penginapan yang dekat dengan Pintu I Senayan dan Plasa Semanggi, soalnya dua tempat itulah yang hendak kami tuju. Dan ternyata, temenku yang satu ini memang jago. Hm...dah hafal sama yang namanya ibu kota. Mulai dari naik mobil, busway, angkot ato bahkan jalan kaki hehe..
Mobil masuk ke sebuah hotel dan parkir di depan pintu. Hotel Setia Budi. Kami berempat masuk dan disambut oleh seorang resepcionist. Setelah bertanya kamar berikut harganya, kami memutuskan memilih yang standar. Maksudnya standar dengan kantong hehe…:p~~
Kami diantar menuju kamar, ada di lantai 2. Di depan kamar 219, kami berhenti. Hm..lumayan juga kamarnya.
Ada dua tempat tidur, televisi, AC dan kamar mandi yang bersih. Kami berbincang sebentar sebelum Mel dan kakaknya pulang. Dia bilang tak bisa mengantar jalan2 kami. Tak apalah, kan masih ada temen2 lain yang bisa direpotin hihi…Pokoknya acara di Jakarta adalah ‘merepotkan teman2ku’ haha..becanda ding V ^-^
***
Ambassador, 130108 09.35
“Tokonya masih pada tutup”, kata mbak Tha2
“Hehe..iya”, cengirku. Hari itu, agenda kami jalan2 ke Mall Ambassador dan ITC Ambassador, mo belanja (he..kyk byk duit aja). Kami pergi berempat pagi itu, aku, mbak pen2, Nay sm mbak Tha2. Seharusnya berenam kali, tapi yang dua ngga bisa. Kami duduk2 di bangku dekat pintu masuk, sambil menunggu toko pada buka.haha…
“Eh, kita ke Dunkin aja yuk. Kata temenku udah buka jam segini”, usul mbak Tha2.
“Yuk”. Kamipun menerima tawarannya. Habis, daripada bengong liatin org lewat.
Jalan2 ngajak mbak Tha2 emang asyik. Bisa nanya apa aja. Dari tempat makan yang enak, tempat beli brg2 murah, tempat maen yang asyik sampe gimana kenal artis hehe…
Sampai di Dunkin, kami memesan ½ lusin donat, 1 croisant dan 4 minum. Wow..laper apa rakus, mbak?? Kami menikmati ‘sarapan’ pagi itu (tepatnya sarapan ke-2 utkku dan mb pen2). Dan kebiasaan kami (maksudku aku dan mbak pen2) adalah mengeshoot ‘before’ and ‘after’ klo mo makan, buat kenang2an sblm tu makanan masuk perut (he..). Lumayan lama juga kami makan. Ngobrol ngalor, ngobrol ngidul, sampai ngobrol tengah :p~~
Abis itu, kami melanjutkan perjalanan, maksudnya belanja. Eh, jalan2 ding. Muter kesana, muter kesini, nyari yang bisa dicari. Aku, mbak pen2 sm mbak Tha2 belanja beberapa barang. Hanya Nay yang ga belanja apa2, nunggu sama suaminya katanya, biar ada yang mbayarin. Memang Nailil!! J
Capek juga ngiterin ITC Ambassador sepanjang pagi dan siang. Rasanya perut ga bisa diajak kompromi lagi, harus diisi.
“Mo makan apa?”, tanya mbak Tha2
“Apa aja yang kita belum pernah makan”, usulku.
“Hm..apa ya?? Soto gebrak udah pernah belum?”
“Apa itu?”, penasaran aku dibuatnya
“Itu lho mbak, kyk yg diiklan TV. ‘Saya minta yang paling enak. Brakk”, giliran mbak pen2 yang njelasin
“Iya..ya. Bolehlah”, kutrima juga usul mbak Tha2
Kami pun naik taksi. Katanya warung itu ga jauh sama penginapan kami, jadi nanti pulangnya bisa jalan kaki.
Sampainya disana, kami pesan 3 mangkuk. Mbak Tha2 ngga makan, soalnya dia ada janji sama Dude Herlino, mo ketemuan ‘n makan bareng ehem..ehem..(Awas lho, ada byk papa and mamarazzi :p~~)
BRAKKK!!!
“Astaghfirullah”, hampir saja aku menjatuhkan sesuatu karena kaget
Ooo..gini tho kenapa dibilang Soto Gebrak. Deuh..jangan sampe deh org berpenyakit jantung makan disini. Bisa2 ga jadi makan, tapi masuk RSPP (nemenin Pak Harto J)
to be continued….(Insya Allah)


<< Home