February 22, 2008

Pesona Ayat-ayat Cinta

“Alhamdulillah selesai juga”, gumamku sambil menutup novel yang ada dalam genggaman. Desah napas panjangku pun mengalun. Ayat-ayat Cinta, judul novel itu. Sebuah karya yang katanya cukup fenomenal dan menyentuh. Membuatku penasaran untuk membaca dan memahami isinya. Meski hatiku tak semelo saat membaca kisah si kecil Delisa, tapi cukup memberiku pelajaran. Bahwa tiap manusia, punya cara sendiri untuk mengungkapkan sebuah kata, Cinta..
“Mbak UUn, aku punya buku baru lagi”, ujarku pada seorang teman kost.
“Aku mo cuti 4 hari, mbak. Pinjemnya nanti aja klo aku dah balik sini”, jawabnya.
“Buku apaan, mbak?”, sela seorang teman dari kamar sebelah.
“Ayat-ayat Cinta, Ra”, sahutku.
“Aku pinjem doong..”, pintanya kemudian.
“Klo gitu biar dibaca mbak Ara dulu, mbak”, kata mbak Uun setelah mendengar permintaan dari Ara.
“Ya udah. Nih”, lantas kuserahkan buku itu kepada Ara.
“Makasih, mbak”, ucap Ara sambil menyahut bukuku. Aku pun tersenyum.
***
“Na, tau ga perubahan yang terjadi sama Ara?”, kata mbak Reni suatu hari disela-sela makan malam kami.
“Emang kenapa, mbak?”, jawabku balik bertanya.
“Ara berubah. Kayaknya setelah baca novel Ayat-ayat Cinta punya kamu itu deh”, sambungnya.
“Masak sih?!”, tanyaku setengah tak percaya.
“Iya..dulu yang tiap keluar ga pernah pake jilbab, sekarang pake jilbab. Kemarin pergi senam sama mbak Niez aja pake jilbab. Trus ngambil jemuran di belakang, pake jilbab lho”, jelas mbak Reni panjang, kali lebar, kali tinggi.
“Kata Wiwi, temen sekamarnya, tiap malam Ara bangun sholat tahajjud dan nangis lamaa banget. Ara juga minta ijin untuk pake jilbab terus ntar klo dia sudah lulus kuliah dan balik ke kotanya”, lanjut mbak Reni.
“Subhannallah…”, hanya kata itu yang sanggup keluar dari bibirku. Hati ini rasanya penuh dengan kabut haru. “Benarkah buku yang kuanggap biasa saja, ternyata begitu luar biasa untuk seorang Ara?!”, tanyaku pada diri sendiri.
“Tau ga, Na. Ara bilang klo orang yang terlihat matanya ato bercadar aja bisa keliatan cantik”, tutur mbak Reni melengkapi ceritanya tadi.
Yah..sosok Aisha dalam novel itu memang sempurna, pun juga dengan cadar putihnya. Sholehah, cantik, pandai, kaya dan tegar. Setidaknya, begitu menurutku.
“Ah..Ara. Semoga saja ini bukan hanya sesaat. Semoga memang untuk selamanya. Aku turut berbahagia untukmu, Ara…”, doa itu terlantun, untuk seorang teman.
to be continued….