June 23, 2007

Tuhan..aku ingin menangis (part 2)

Kisah ini berawal dari sebuah harapan seorang gadis untuk dapat meraih dan memiliki cinta dari seseorang yang dia sayangi. Singkat, tapi cukup memberi kita pelajaran. Bahwa sabar terletak pada mula suatu ’peristiwa’ terjadi. Tidak ada yang harus disalahkan atas semua yang terjadi dalam hidup ini. Dan bukan masalah itu yang terpenting, melainkan bagaimana kita menghadapi masalah tersebut. Setiap yang hilang akan terganti, asalkan kita ikhlas dan berharap yang lebih baik. Wallahu A’lam..

Hm..begini ceritanya (hehe..kayak dunia lain aja)

***
Sebut saja Zhafira. Seorang gadis remaja yang ceria. Dia selalu berusaha menjalani harinya dengan senyum. Dibalik balutan baju muslimah yang belum lama dia kenakan, dia tak pernah berhenti mencari pelajaran dalam tiap hembus nafasnya. Berusaha belajar tentang hidup, berusaha agar apa yang baru digenggamnya tidak kembali lepas.

”Ya Allah...jangan engkau biarkan aku menyerah. Aku rela kehilangan segalanya, asalkan aku bisa keluar dari semua ini.” Kalimat itu pernah terlontar dari bibir Zhafira. Yah..mungkin dia memang rela kehilangan semuanya demi hal itu. Sesuatu yang membuatnya tidak ingin mengenal dan dikenal.

***

Pagi itu, suasana kantor lumayan sepi. Orang-orang sibuk dengan rapat. Zhafira pun berjalan menuju ruang internet yang tidak jauh dari kantornya. Dia ingin mencari bahan untuk presentasinya minggu depan.

Iseng-iseng dia membuka email, ”Siapa tahu ada surat masuk”, pikirnya. Dan benar saja, sebuah surat dia terima. Hm..dari ’dia’. Senang sekali Zhafira menerimanya. Ketika dia membaca subjectnya, seolah dia tak ingin membukanya. ’Benarkah..?!’, tanyanya. Rasa penasaran membuatnya tak berpikir panjang. Dibacanya surat itu. ”Subhanallah.. Subhanallah..Allahu Akbar..Astaghfirullah...tenang..tenang..”, kalimat itu dia ucapkan berkali-kali. Seakan-akan Zhafira tak sanggup lagi untuk berdiri, tubuhnya lemas. Dunianya terasa hancur seketika, jantungnya seperti berhenti berdetak, matanya pun berkaca-kaca. Dia tak sanggup membayangkan bagaimana dengan hari-harinya nanti.

Perlahan dia tersadar, dan berkata, ”Kamu bisa!!”. ”Kamu pernah mengalami hal yang lebih menyakitkan, Fi”, hiburnya pada diri sendiri. Sebuah undangan pernikahan baru saja dia terima. Undangan dari seorang yang istimewa baginya.

Dada Zhafira terasa sesak, ingin sekali dia menangis sekeras-kerasnya saat itu. Tapi tidak, dia sedang ada di kantor dan dia tak ingin orang lain melihat airmatanya mengalir. Berulang kali dia menarik napas panjang dan berusaha untuk tenang.

Sahabatnya menghampiri, dengan singkat Zhafira memberitakan undangan itu, ”Dia menikah”. Sang sahabat terkejut, dengan segera Zhafira berkata, ”Diam!! Jangan berkomentar”. Dia tak ingin komentar itu membuatnya merasa bersalah atau menyesal. Zhafira berusaha menenangkan hatinya. Diputarnya bacaan murottal dari komputer. Dan dia pun terdiam dalam tanya, ”Benarkah..?!!”

Kemudian, dia meminta ijin kepada atasannya untuk datang ke pernikahan itu. Karena wajib hukumnya bagi orang muslim yang mendapat undangan untuk memenuhinya, bila memang tidak berhalangan. Beberapa teman sempat ragu membiarkannya datang kesana. Mereka khawatir Zhafira tak sanggup. Tapi Zhafira meyakinkan mereka, bahwa dia bisa.

”Kita lihat saja nanti, apa besok mataku bengkak karena menangis..?!”, ungkapnya ketika mendengar ledekan dari teman-teman bahwa dia akan menangis tersedu-sedu begitu tiba dirumah.

Sampai di rumah, Zhafira tidak merasakan lelah sama sekali pada tubuhnya. Dadanya masih terasa sesak, tapi sungguh airmatanya tak mampu mengalir. Seusai sholat, Zhafira menghabiskan waktunya untuk membaca ayat suci. Karena hanya itu yang sanggup mengobati hatinya.

Katakanlah : ”Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)” (QS. 18 : 109)

Dia pun menarik nafas dalam dan terdiam. Berulang kali hatinya bertasbih, dan mohon untuk diberi kekuatan. Diambilnya mobile phone disampingnya. Tak berapa lama suara Indra Bekti pun terdengar. Zhafira tersenyum, ”nada sambungnya lucu”, batinnya. Suara berat dan lemas menyahut dari seberang. Malam itu, dia ingin menumpahkan semua pada sahabatnya. Dia ingin menangis kepadanya. Tapi semua terasa tertahan sehingga dia tak mampu berkata-kata. Sang sahabat bercerita kalau hari ini dia menerima undangan pernikahan dari orang yang masih disayanginya lewat email.

”Besok nikah”, katanya pelan. Zhafira tertawa dan hanya berkata, ”Sama..”. Dan Zhafira pun urung menangis.

Malam semakin larut, Zhafira belum juga bisa memejamkan matanya. ”Sakit sekali..”, gumamnya. Pikirannya hanya berputar tentang ’dia’. Zhafira bangkit dari tempat tidurnya. Diambilnya air wudlu, kemudian dia tunaikan sholat sunnah.

Diantara sujud-sujud panjang dia selipkan doa, ”Ya Allah..Berikan aku pahala atas semua ini, jadikan aku sabar karenanya dan berikan ganti yang lebih baik”. Meskipun setelah itu dia tetap tak bisa memejamkan matanya, tapi hatinya sedikit tenang.

***

Keesokan harinya, Zhafira tidak semangat untuk berangkat kerja. Rasa sakit malam tadi masih terasa dihatinya. Ditambah lagi rasa kantuk karena semalam tidurnya sama sekali tidak nyenyak. Zhafira memutuskan untuk pulang kantor lebih awal dari biasanya untuk menebus tidurnya semalam. Sampai di rumah, dia langsung merebahkan tubuhnya dan terlelap serta sejenak melupakan sakit di hatinya.

Sore hari, Zhafira mengajak seorang teman membeli kado pernikahan. Jarak yang ditempuh lumayan jauh, sekitar 30 menit naik sepeda motor. Sepanjang perjalanan, Zhafira memikirkan perasaannya. Sedih, kecewa, sakit dan masih banyak lagi. Berulang kali Zhafira berdoa agar Allah memberikannya kesabaran dan menggantinya dengan yang lebih baik. Zhafira hanya punya satu, keyakinan padaNya.

Adzan maghrib berkumandang. Mereka masih di atas kendaraan dalam perjalanan pulang. Sambil melihat indahnya langit senja hari, Zhafira kembali mengucapkan doanya dan berkata, ”Ya Allah..berikanlah padaku jawaban atas doaku, dalam bentuk apapun”.

Zhafira sangat menikmati pesona langit petang itu. Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang aneh. Bibirnya pun seketika tak mampu berkata. Cahaya disela-sela awan membentuk sebuah kata, ”4JJ I”. Dengan mata berkaca, Zhafira berujar lirih, ”Terima kasih Tuhan. Aku percaya...Sungguh, aku percaya”. Dan senyumnya pun mengembang.

Sesampainya di rumah, segera Zhafira menunaikan sholat maghrib. Masih dengan doa yang sama di setiap sujud panjangnya. Kemudian dilanjutkan dengan sholat Isya’. Seusai sholat, Zhafira menengadahkan tangannya. Dia teringat sebuah hadist yang berbunyi :

"Doa seorang sahabat untuk sahabatnya yang jauh akan dikabulkan. Meskipun sahabat itu tidak mengetahuinya. Di dekatnya ada malaikat yang akan menjawab, ”Amin. Begitu pun untukmu”.

Lantas Zhafira berdoa, ”Ya Allah...karuniakanlah kebahagiaan kepada mereka berdua. Dan jadikan pernikahan mereka barokah. Amien”. Seolah-olah dia mendengar malaikat mengaminkan doanya. Zhafira pun tersenyum simpul. Dan doa malam itu berakhir dengan sujud yang panjang, hingga sujud itu membuat Zhafira terlelap.

Tiba-tiba Zhafira terbangun. Dia dapati sesuatu yang aneh menjalari hatinya. Entah mengapa, semua terasa begitu ringan. Zhafira mencoba mengingat ’dia’, rasa kecewa, sedih dan sakit di hatinya. Tapi semua itu sudah tak ada, entah terbang kemana. Allah mendengar doanya, dan begitulah jika Allah berkehendak. Maka manusia tidak kuasa untuk menghentikannya. Zhafira melonjak kegirangan, berulang kali dia berucap syukur kepadaNya. Karena untuk kesekian kalinya, Allah menyelamatkan hatinya.

Diraihnya secarik kertas dari dalam tas. Dengan senyum gembira, Zhafira menorehkan tinta. Sebuah doa tulus dari dasar hati untuk mempelai berdua, ”Semoga Allah memberi berkah kepadamu dan kepada apa-apa yang diberikannya padamu serta mengumpulkan kamu berdua dalam kebaikan”. Kemudian, dibungkuslah kado pernikahan itu.

***

Pagi itu, langit cerah sekali. Seperti biasa, kicau burung terdengar bersahutan. Angin segar pagi hari masuk dari jendela yang terbuka. Zhafira tampak sudah bersiap untuk berangkat kerja. Ada senyum bahagia terulas di bibir, dan tatapan optimis dari matanya. Dia tak ingin teman-teman meragukan kedatangannya ke pernikahan itu. Dia berkata mantap, “Aku bisa!!”.

Dengan ditemani sahabatnya, dia menuju walimahan itu. Seorang teman berpesan, “Kita semua di kantor selalu komitmen dengan kata-kata kita. Datang kesana, dan tersenyumlah. Jangan menangis apalagi sampai pingsan”.

Sewot juga Zhafira diberi pesan begitu. ”Memang aku seperti itu apa..?!”, sahutnya. Meskipun dia geli juga seh. ”Hm..pingsan?! hehe..”, cengirnya.

Sampai disana, tidak ada yang aneh pada Zhafira. Semuanya berjalan biasa saja. Suasananya hangat dan penuh canda. Zhafira pun melangkah pulang dengan lega.

”Eh, ada yang ketinggalan mbak”, ujar sang sahabat kepada Zhafira.

”Apa..??”, tanya Zhafira setengah bingung.

”Hati njenengan”, jawabnya. ”Hehe..enak aja. Biasa aja lagi”, kata Zhafira sambil merangkul sahabatnya. Sepanjang perjalanan, hatinya selalu berucap syukur. Tawa pun tak pernah lepas dari wajahnya. Sungguh hari yang menyenangkan.

***

”Hm..bunda?! Ada apa ya?”, batin Zhafira ketika dia dapati ponselnya berbunyi pagi hari.

“Dek..kamu ngga papa kan..?”.

Pertanyaan bunda membuatnya kaget. “Ngga papa bunda…”, jawabnya dengan suara tercekat dan tangis yang hampir meledak. Meskipun sebenarnya dia ingin jujur, tapi itu akan membuat bunda sedih.

“Jangan lupa makan”, sambung bunda kemudian.

“Iya…”, sahut Zhafira sebelum kemudian telephone terputus.

Zhafira terduduk lemas. Tak terasa, pipinya sudah basah oleh air. “Mungkin naluri seorang ibu berbicara ketika anaknya sedang mengalami kesulitan dan itu yang membawa bunda telphone pagi ini”, batinnya.

“Bunda..Zhafira sayang bunda”, ujarnya lirih.

***

Hari berlalu..suatu ketika sahabat Zhafira bercerita, kalau dia ditanya oleh sang ibu kenapa waktu itu dia pergi ke walimahan orang yang tak dikenalnya itu. Tiba-tiba saja dia menangis. Sang ibu pun terheran-heran dengan perilaku anaknya itu. Lantas sang sahabat menjawab, ”Aku kasihan sama mbak Zhafira.”

Mata Zhafira berkaca mendengar itu. Bukan karena apa yang telah terjadi, tapi kebahagiaan karena ada yang peduli padanya.

”Kok jadi kamu yang nangis tho..?! Jangan nangis, nanti aku ikutan nangis loh”, ujar Zhafira pada sahabatnya. Sahabat imutnya pun tertawa.

Hm..kini tidak ada yang tersisa lagi dalam hati Zhafira. Doa yang ia lantunkan terkabul dengan cepatnya. Bahkan pengganti semua itu mulai dia dapatkan. Sesuatu yang sangat berharga, yang semoga tidak kembali lepas...SELAMANYA. Sesuatu yang telah lama dia inginkan, yang dengannya dia rela kehilangan segalanya. Yah..memang ada hal yang harus kita bayar dengan sangat mahal. Bahkan dengan kehilangan orang-orang yang kita sayangi. Hanya percaya...apa yang Dia berikan adalah yang terbaik untuk kita.

***

Sepekan sudah sejak peristiwa itu terjadi. Tidak ada yang berubah dengan hari-hari Zhafira. Dia tetap melakukan aktivitas hariannya. Pagi berangkat ke kantor, dan pulang di petang hari. Just like the other days.

”Mbak, kenapa?”, tanyanya pada seorang teman ketika didapati matanya bengkak, sisa tangis semalam.

”Kenapa sih?”, jawabnya.

”Habis nangis ya..??”, tanya Zhafira kemudian.

”Nggak apa-apa kok. Sudahlah”, lanjutnya dengan tawa yang dipaksakan. Zhafira tersenyum mendengar jawaban itu.

”Hmf..same with you”, kalimat itu terluncur dari bibirnya.

Zhafira terdiam. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya. Tapi dia tahu, komentar yang dia luncurkan akan membuat tangis gadis di depannya meledak lagi. Dia pun mengunci rapat bibirnya.

”Hm..mau aku kasih tahu sebuah cerita? Sebuah kisah nyata yang dengannya aku mengambil hikmah”, tawar Zhafira pada sang gadis. Kemudian, dia menyodorkan beberapa lembar kertas.

”Selamat membaca dan mengambil hikmah”, ucap Zhafira singkat dengan senyum khasnya.

”Terima kasih. Aku pasti membacanya. Aku baca di rumah ya biar bisa menghayati”, ujar sang gadis. Meskipun suaranya renyah, tapi tetap saja tak mampu menutupi mendung di wajahnya.

Zhafira menarik napas panjang, sambil menatap punggung sang gadis yang berlalu meninggalkannya. ”Kalau saja aku bisa menangis seperti yang dilakukannya. Sayang..aku tidak bisa.”, bisik Zhafira lirih.

***

Setiap yang sakit pasti ingin sembuh. Setiap yang terluka pasti ingin terobati. Ketika engkau sakit kepala, minumlah obat sakit kepala. Ketika engkau sakit perut, maka minumlah obat sakit perut. Dan ketika engkau sakit hati, jangan racun yang engkau teguk. Tapi teguklah ’obat penyakit hati’, dan rasakan betapa manisnya obat itu.

Pena telah diangkat, dan lembaran kehidupan telah kering. Tidak ada yang bisa merubahnya, meskipun engkau menangis darah dan berteriak ribuan kali, ”Aku tak ingin begini”. Jangan pernah engkau berkata, ”Seandainya....”. Dan hidup...harus terus berlanjut, Sobat!!

***

Persembahan untuk mereka yang merasa tidak bisa hidup ketika ditinggal oleh orang yang disayangi. Yang merasa dunia ini tidak adil. Yang merasa bahwa ’aku seharusnya begini, maka akan begini’. Dan yang merasa dunianya hancur bersama dengan perginya si ’dia’. Sebesar apapun kita mencintai seseorang, kita pasti akan berpisah dengannya. Maka sederhanalah dalam mencintai, karena bisa saja suatu saat dia menjadi musuh kita. Begitu pula sebaliknya, bisa saja suatu saat orang yang kita benci menjadi orang yang paling kita cintai.

NB : Cerita ini bukanlah fiktif belaka. Bila ada kesamaan nama, karakter, latar belakang atau cerita bukanlah suatu kesengajaan dari penulis, eh..sengaja ding (hehe...). Maap yee :p~~ Tapi ga papa kaan..hanya sebagai pengingat kita, bahwa ”Bersama kesulitan selalu ada kemudahan. Bersama tangis selalu ada tawa. Dan bersama musibah selalu ada hikmah. Insya Allah”. Cheers ^_^

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home